Rembulan Di Ranting Yang Kering

Di atas ranting kering, rembulan bersinar,Simbol harapan di tengah gersangnya tanah.

Rakyat bertanya, di mana janji pemimpin,Ketika ranting-ranting meranggas, tanpa arah.

Di bawah rembulan, janji-janji terukir,Namun kenyataan berbeda, kering dan rapuh.

Ranting-ranting menggigil, dalam janji yang tak terwujud,Kemana arah, ke mana tujuan, siapa yang patut disalah?

Politik berkelindan, seperti angin malam,Menggoyang ranting, namun tak memberi air.

Rakyat merindu, rembulan yang setia,Namun terjebak dalam permainan kuasa yang getir.

Di atas panggung, mereka berdiri,Mengucap kata-kata, seolah peduli.Namun ranting kering tetap kering,

Sementara rembulan hanya bisa menanti.Rembulan menyaksikan, dari atas sana,Rakyat berharap, ranting hidup kembali.

Namun janji hanya janji, sementara musim berganti,Ranting-ranting tetap kering, tanpa tanda kehidupan.

Di bawah cahaya rembulan, kita bertanya,Adakah pemimpin yang benar-benar peduli?

Ranting kering menunggu, rembulan tetap bersinar,Namun harapan rakyat, terus mengering, tanpa jawaban pasti.(by Humam)

Editor: Heri S

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Develop By: skripku.com