Sikka, Cerdaspost – Abrasi pantai kian mengancam pemukiman Suku Bajo yang berada di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur dampak dari gelombang 3 malam berturut-turut, hingga menyebabkan sebagian besar permukiman warga yang tinggal disekitar pantai turut terancam, tak terkecuali bagi para nelayan yang hendak mengais rezeki dalam memenuhi kebutuhan keluarga mereka.
Naasnya, pantauan media ini, rumah warga yang berada di sekitar pantai Desa Nangahale itu tengah mengalami kerusakan, mesti terpaksa untuk ditempati. Tak terkecuali bagi warga yang mengais rejeki dengan menanak garam lokal.
Pondok pengolahan garam yang terbuat dari bambu beratapkan daun kelapa anyaman itupun turut terbongkar habis, bahkan ada yang hanyut sebab goncangan ombak, angin beserta hujan malam itu.
Termasuk 3 bangunan gedung sekolah RA, MIS Muhammadiyah Al Fatah Nangahale dan MTs Muhmmadiyah Al Fatah Nangahale yang berada tidak jauh dari pantai juga turut terancam. Untuk MIS Al-Fatah Nangahale sendiri bahkan bagian halaman sekolah terendam air laut.
Terhadap bencana abrasi yang menjadi langganan empuk musiman ini, salah satu warga yang enggan disebut namanya sempat menyoal dan meminta media melakukan upaya.
“Kau kesana dulu anak, lihat itu rumah garam kami yang rusak parah,” ucap dia singkat.
Senada dengan itu, Sulaiman Mahing menjelaskan bahwa abrasi telah menjadi masalah serius dalam beberapa tahun terakhir.
“Dengan gelombang yang terjadi setiap musim barat yang menyebabkan terjadinya abrasi hampir diseluruh pesisir Desa Nangahale,” tandasnya Sulaiman.
Ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap abrasi yang kian mengancam keberlangsungan hidup warga sekitar dan menghambat pekerjaan para nelayan itu.
“Apabila abrasi terjadi terus menerus, maka pemukiman Desa Nangahale akan hilang,” keluh dia.
Sekilas media ini menelisik abrasi yang menjadi ancaman serius warga di Desa Nangahale itu, setidaknya media menemukan beberapa faktor yang turut mempengaruhi terjadinya abrasi yang hingga hari ini menjadi ancaman serius para warga sekitar.
Diantaranya, salah satu pemicu yaitu di sepanjang pemukiaman warga tidak didapatinya tanaman mangrove yang dimana selain memiliki fungsi sebagai habitat bagi binatang laut, mencari makanan, dan berkembang biak, justru tanaman mangrove juga berfungsi sebagai pelindung terhadap pengikisan tanah oleh air atau menjadi penahan gelombang hingga tidak terjadinya abrasi.
Sementara, Kepala Desa Nangahale, Sahanudin saat dihubungi media ini pada Kamis, 19 Desember 2024 mengatakan bahwa terhadap upaya mitigasi tentunya sudah dilakukan dengan melakukan penanaman mangrove disepanjang pesisir pantai di Desa Nangahale. Namun, terhadap upaya yang dilakukannya sebagai pemerintah desa hingga kini hanya disebelah barat pemukiman saja yang tumbuh dan termanfaatkan.
“Sepanjang 2024 kita sudah lakukan penanaman, tapi di sepanjang area penanaman mangrove tersebut hanya disebelah barat saja yang tumbuh subur, satu titik saja. Untuk titik lainnya karena tidak ada lumpur jadi dia tidak tumbuh,” terangnya. (Faidin)






