SIKKA  

Berbagai Upaya Penanganan Dampak Erupsi Gunung Lewotobi Yang Terus Dilakukan Pemkab Sikka

PJ. Sekda Kabupaten Sikka, Margareta Movaldes Da Maga Bapa, ST., M. Eng.,

Sikka, Cerdaspost – Penjabat (PJ) Sekda Kabupaten Sikka, Margareta Movaldes Da Maga Bapa, ST., M. Eng., atau yang kerap disapa Femy Bapa mengurai langkah-langkah penanganan terhadap pengungsi yang terdampak erupsi Gunung Lewotobi.

Femy Bapa menjelaskan, erupsi gunung Lewotobi telah berlangsung sejak hingga berlanjut pada tahun 2024 hingga mengakibatkan meningkatnya angka pengungsi, baik dari Kabupaten Flores Timur maupun dari Kabupaten Sikka sendiri.

Di Auditorium Egon Kantor Bupati Sikka, Sabtu (14/12/2024), kepada awak media ia menyampaikan bebagai akibat dari erupsi yang terus berlangsung, dimana banyak lahan pertanian yang tertutup abu vulkanik hingga kemudian mengganggu perekonomian masyarakat.

Tak terkecuali keluhan lahir dari para petani yang mengeluh terhadap hasil pertanian milik mereka yang tidak bisa dijual, bahkan dikonsumsipun sudah tak layak dampak dari abu vulkanik.

Disisi lain, abu vulkanik pun terus berdampak, hingga menyulitkan distribusi hasil pertanian dan barang lainnya akibat penerbangan yang kini harus terganggu. Meski berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah ditengah dampak erupsi Gunung Lewotobi dengan melakukan kajian dan menetapkan status Siaga Bencana.

Dalam kajian yang dilakukan, kemudian fokus utama dari pemerintah adalah dengan menangani dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh letusan tersebut, terutama bagi warga dan wilayah yang terdampak erupsi.

Dikatakan, pada November 2024, saat erupsi semakin intens, pemerintah Kabupaten Sikka mengeluarkan status Siaga Bencana dan segera memulai proses evakuasi. Warga yang tinggal di wilayah terdampak, seperti diantaranya Desa Kringa dan Desa Hikong, mulai diungsikan.

Evakuasi berlangsung pada 11 hingga 12 November 2024, setelah peningkatan aktivitas gunung api yang menyebabkan kepanikan di tengah kalangan warga. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Sikka juga terus berkoordinasi dengan pemerintah Kabupaten Flores Timur untuk menangani pengungsi yang kian meningkat.

Wilayah Flores Timur dan wilayah perbatasan Kabupaten Sikka juga termasuk Kecamatan Talibura, salah satu daerah yang terdampak langsung dan menjadi fokus perhatian, dimana bantuan logistik pun terus disalurkan secara berkelanjutan. Bantuan logistik pun menjangkau wilayah yang paling banyak merasakan dampak erupsi, dimana diketahui adalah lima desa di daerah perbatasan.

Di Kabupaten Sikka, pemerintah menyiapkan posko pengungsian di Kecamatan Waigete untuk menampung pengungsi dari Sikka dan Flores Timur. Bahkan lebih dari 2.000 pengungsi dari Flores Timur mengungsi secara mandiri ke wilayah Kabupaten Sikka, sementara 2.000 lainnya tinggal di posko yang telah disiapkan oleh pemerintah.

Status Darurat

Akibat dampak dari erupsi pemerintah Kabupaten Sikka lalu meningkatkan status bencana dari Siaga menjadi Darurat pada 10 hingga 24 November 2024. Selama periode tanggap darurat, pemerintah melakukan evakuasi dan memastikan kebutuhan dasar pengungsi, baik dari Kabupaten Sikka maupun Flores Timur selalu terpenuhi.

Disampaikan, dari pengungsi yang ada, pengungsi tersebar terdapat di 15 kecamatan di Kabupaten Sikka, dengan mayoritas berada di Kecamatan Lela, yang kemudian setelah erupsi mulai reda pada 29 November 2024, pemerintah Kabupaten Sikka melakukan evaluasi dan merencanakan pemulangan pengungsi ke desa masing-masing.

Proses pemulihan ini dilaksanakan dengan memperhatikan kondisi dan keamanan warga yang terdampak erupsi. Meski demikian, pemerintah Kabupaten Sikka terus berkoordinasi dengan pihak terkait, baik pemerintah provinsi maupun daerah lainnya, untuk memastikan proses evakuasi dan pemulihan berjalan dengan baik. (Faidin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Develop By: skripku.com